Saturday, May 30, 2020

Haji Normal Baru?




Bukan hanya 200ribuan calon haji Indonesia, saya pun jadi ikutan berdebar menunggu kejelasan terkait keputusan pelaksanaan Haji 2020. Informasi terakhir yang saya ikuti, pemerintah Indonesia c.q Kementerian Agama, tengah menunggu lampu ijo kepastian dari pemerintah Arab Saudi (KSA) sampai batas waktu mentok 1 juni ini. Persiapan sana sini jalan terus, tapi jika Kemenag ditanya, tiada lain sikap selain menunggu keputusan dari Arab alias idle saja. Mengapa? Soal Haji isunya sensitif, super sensitif malahan. Salah-salah kata, malah bikin gusar calhaj yang selama ini bersabar sekian tahun untuk ber-haji. Bisa diamuk. Memakai istilah seorang kolega, “jangan sampai calhaj ketunda lu ditagih pertanggungjawabannya di akhirat”. Itu sebabnya, kalau bisa, bola panas jadi atau tidaknya keberangkatan haji tahun ini, jangan berada di tangan pemerintah. Benarkah?


Jadi Tamu Allah

Sungguh tidak bisa tergambarkan bahagia-nya orang pergi berangkat haji. Bagi saya, rasanya baru kemarin. Kala itu, hanya (saya ulang, hanya) dengan jalan dan kuasa Allah yang menggerakkan, saya jadi berangkat haji tahun 2019. Jalurnya, Media Center Haji (MCH), program kerjasama peliputan haji, yang annual dihelat Kementerian Agama lewat Panitia Penyelenggara Ibadah Haji atau PPIH 2019. Unik bahkan berbau kebetulan, tapi itu betul-betul rezeki terbaik saya, subhanallah.

Sedari awal, tidak pernah terlintas selama 2,5 bulan bisa tinggal di Tanah Suci. Kenapa unik? Prosesnya terbilang cepat. Ketika pertama kali informasi pendaftaran itu saya terima, ketika saya mendapatkan izin atasan dan kantor untuk ikutan, ketika saya menjalani tes seleksi-nya, ketika saya pembekalan petugas haji, ketika saya berangkat, ketika saya menjalani hari-hari bertugas di Tanah Harom, sampai kembali ke Tanah Air. Dari situ, saya yakin Allah-lah yang menggerakkan semua-nya secara sempurna, sehingga saya melalui-nya dengan lancar dan selamat.

Kenapa kebetulan? Tidak pernah terlintas niatan untuk pergi berhaji, saat itu. Bahkan kalau harus jujur, di setiap amalan-amalan yang saya lakukan, yang kemudian disertai doa, saya meminta duniawi saja, “Yaa Rabb, tambahkan dan lapangkan rezeki saya, anak istri saya,” atau “Yaa Rabb, saya ingin semua hutang saya lunas, penghasilan saya besar sehingga bisa menafkahi keluarga,” yang gitu-gitu seputar doa saya. Kelak kemudian saya menyadari proses yang dijalani, ternyata doa-doa saya dijawab lengkap baik duniawi dan ukhrawi, dan Allah maha pemberi rezeki terbaik.

Saat bertugas sebagai Media Center Haji 2019 Daerah Kerja Madinah (Dok. Istimewa)

Saya menjadi satu dari sekian kisah insan yang merindukan namanya dipanggil Baitullah, menjadi tamu Allah. Banyak yang ingin berangkat, tapi tak sedikit yang mesti bersabar menunggu giliran.

Pandemi dan Haji

Pemerintah Arab Saudi (KSA) hingga tulisan ini dibuat mulai berangsur mengubah ketentuan lockdown wilayah-nya secara bertahap. Melalui dekrit Raja, kegiatan ekonomi masyarakat mulai dibuka, pusat aktivitas publik, transportasi, termasuk masjid (masjid Nabawi di Madinah, insyaAllah segera menyusul juga masjidil Haram di Makkah) pada akhir mei ini. Namun sejumlah protokol kesehatan tetap diberlakukan, sebagai contoh di masjid, jamaah perlu memberi lebar jarak 2 meter.

Data yang dilansir Kementerian Kesehatan Arab Saudi pasca hari lebaran, kasus positif mencapai 80 ribuan, dengan perincian sembuh 54 ribuan, dan angka meninggal 440 orang, sementara wilayah kota Makkah menjadi lokasi dengan kasus terbanyak.

Progres kondisi ini tidak lepas dari upaya pemerintah memerangi penyebaran korona. Seorang kolega yang tengah menyelesaikan studi S3 di Madinah bercerita, bahwa tim medis dan kesehatan Saudi beberapa minggu ini terjun ke kampung-kampung untuk cek kesehatan penduduk dan pemukim secara masif. Jumlahnya per hari ribuan dan deteksi ini dibarengi tingkat kesembuhan yang lebih banyak. Meski dinilai positif, normalnya tempat ekonomi dan publik tidak serta merta berimbas ke haji. Kota Makkah masih jadi pengecualian pelonggaran. Apalagi haji menyangkut jumlah orang secara fisik yang berkumpul di satu waktu, perlu penyesuaian ekstra.

Berkaca dari pengalaman haji Indonesia sebelumnya, penyesuaian meliputi seluruh tahapan pra, masa puncak haji dan pasca pelaksanaan. Tahapan pra adalah kondisi semenjak calhaj di embarkasi, keberangkatan dan kedatangan di tanah suci, termasuk masa tinggal sebelum masuk puncak. Pada tahapan ini, 230 ribu calhaj terbagi gelombang pertama (rute perjalanan ke Madinah dulu baru ke Makkah) dan gelombang dua (rute ke Makkah lanjut ke Madinah). Sementara masing-masing gelombang melibatkan 200-300 kloter (450 orang/kloter). Persoalan muncul bagaimana protokol jaga jarak di embarkasi, di bandara/pesawat, di kamar penginapan, di kendaraan/bus sholawat yang selalu penuh misalnya, bagaimana mengatur lebar jarak 2 meter.

Suasana Pelataran/Mataf Masjidil Haram Mendekati Musim Puncak Haji 1440 H (Dok. Istimewa)

Upaya ekstra dibutuhkan saat masuk tahapan puncak haji di kota Makkah (fase pergerakan Arafah-Muzdalifah-Mina). Haji Indonesia berkumpul bersama jutaan orang dari berbagai negara lain. Persoalan utama menyangkut bagaimana pelaksanaan wajib dan rukun haji, misal Tawaf, bagaimana jaga jarak calhaj mengelilingi Ka’bah atau pembagian jikapun harus dibuat shift. Meski sudah diperluas area mataf, atau di bagian koridor 1 hingga atap, tetap saja dirasa sempit jika memasuki puncak haji. Menilik praktek sholat Id kemarin di area masjidil Haram terutama di lantai bawah yang berjarak, terasa mustahil untuk menjaga jarak fisik sekalipun dibatasi limit jumlah orang. Belum lagi kepadatan massa saat wukuf Arafah, mabit Muzdalifah dan Mina, serta jumrah yang lagi-lagi dengan area terbatas. Bagi anda yang pernah melihat kondisi jamaah calhaj di tenda-tenda pasti paham kondisinya.

Terakhir, tahapan pasca haji, yang menjadi waktu-waktu dimana sebagian besar jamaah terkuras tenaga secara fisik. Kondisi drop kecapaian menjadi rentan terjangkit oleh penyakit. Gangguan saluran pernapasan, Heatstroke, atau Mers-COV menjadi penyakit utama yang ada, ditambah potensi dari korona ini tentunya, dan hal ini tidak bisa disepelekan.

Sejumlah persoalan tahapan pra, puncak, dan pasca tadi memang bergantung pada keputusan tuan rumah dalam hal ini, pra syarat haji yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi. Namun begitu, menyiapkan skenario-skenario strategis (simulasi) menjadi PR pemerintah dan peran Kementerian Agama, dan kita belum dengar itu – setidaknya hingga saat tulisan ini dibuat. Meminjam tren saat ini, Haji normal baru. Skenario strategis dalam haji normal baru bertujuan untuk semakin meyakinkan bahwa haji Indonesia, tidak hanya sebagai yang terbesar di dunia, tetapi yang pertama memenuhi standar protokol kesehatan yang dimintakan tuan rumah. Pasalnya, melihat perkembangan akhir-akhir ini, haji tahun ini tetap diselenggarakan pemerintah Arab Saudi, namun bisa jadi Indonesia tidak diundang karena tidak meyakinkan kesiapan-nya.

Sesuai jadwal keberangkatan pertama calhaj pada 26 juni 2020, jika diputus kepastian tanggal 1 juni ini, menjadi rentang waktu mematangkan skenario teknis pelaksanaan haji dengan jamaah. Lalu paralel, persiapan administrasi dan non-administrasi (pengurusan dokumen jamaah, visa e-hajj, kontrak kerjasama fasilitas layanan, dan lainnya) juga dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya alias mepet.

Akibat pandemi korona, haji tahun ini kadung diliputi rasa pesimis. Namun saya meyakini seperti pengalaman yang saya bagi di awal artikel, ada Allah yang menggerakkan. Dengan kuasa-Nya, tidak ada yang tidak mungkin. Allah punya hitungan, sehingga apapun hasil keputusannya, menjadi terbaik dan diterima dengan ikhlas bagi siapapun, termasuk para duyufurrahman.


*Jurnalis InewsTV, anggota Media Center Haji 2019

Wednesday, March 20, 2019

Debat Capres, Berharap Apa?!



Jika diamati, reaksi yang paling mengejutkan dari debat kedua adalah pelaporan capres ke Badan Pengawas Pemilu. Kandidat petahana Joko Widodo diadukan atas dugaan penyebaran informasi bohong dan fitnah soal lahan Prabowo Subianto. Sebaliknya, Barisan Advokat Indonesia (terafiliasi sebagai pendukung Jokowi-Amin) mengadukan Djoko Santoso, ketua nasional Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, atas pernyataannya yang menuding capres petahana berlaku.
Sementara reaksi lainnya, relatif wajar. Suasana iklim demokrasi, pro dan kontra respon masyarakat atas debat. Percakapan publik yang bergulir pasca debat, antara lain headline media massa yang mengulas debat kandidat, tayangan dialog televisi, percakapan grup aplikasi whatsapp, media sosial warganet, polling, atau yang down to earth, obrolan di warung kopi.
Di twitter misalnya, twit akun Greenpeace menjadi ramai terkait kebakaran hutan. Atau akun-akun yang berbalas menyoal kepemilikan lahan HGU kandidat presiden (di pidato terbaru-nya saat Acara Konvensi Rakyat, capres Joko Widodo juga 'membalas' tantangan pengembalian). Ditengah polarisasi pendukung kedua kandidat, komentar soal penampilan kedua kandidat cenderung agresif.

Debat Kedua Capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto, (Sumber: Okezone, 17/2)
Alat Persuasi
Sedianya debat adalah senjata untuk mem-persuasi dalam pemilihan. Amerika Serikat contohnya, pemilihan kandidat presiden hadir dengan kultur debat yang kuat.
Merunut sejarah, ada debat bersejarah pada tahun 1858, yakni Abraham Lincoln dan Stephen Douglas yang head to head dalam debat kandidat senator Illinois. Saking terkenalnya, debat itu dianggap a masterful exemplars of political rhetoric dan menjadi referensi diskusi ahli mengenai debat politik di Amerika sana (Perloff, 2014).
Kala itu, isu debat mengenai perbudakan. Lincoln dianggap berhaluan absolut kanan, menilai perbudakan adalah hal yang salah secara moral. Sang lawan, Douglas yang mengedepankan kedaulatan populer, mengambil posisi relatif, yakni mengembalikan persoalan moral perbudakan pada masyarakat, apakah ingin dilanjutkan atau menghapusnya. Keduanya saling beradu retorika, tak sedikit menyerang argumen dan menguatkan keyakinannya di hadapan massa. Ilustrasi debat yang cukup menarik bisa kita lihat dari Youtube, Angry Town Halls of 1858 (atau bisa lihat http://www.ushistory.org/us/32b.asp).
Sejumlah analisis dikemukakan mengapa Douglas, senator petahana, unggul atas Lincoln dalam pemilihan. Pertama, Douglas baik argumen dalam debat dan kampanyenya, berhasil meyakinkan di hadapan warga Illinois yang belum memutuskan (undecided/swing voters) bahwa Lincoln merupakan seseorang yang radikal abolisionis (gerakan anti-perbudakan Eropa, yang bentrok dengan kebiasaan masyarakat kala itu).
Kedua, audiens yang hadir tidak fokus pada kedua kandidat yang mahir menyampaikan argumen-nya. Audiens bahkan hadir dengan tujuan piknik, makanan, dan sebagian lainnya tenggelam dalam euforia momentum drama acara debat (Zarefsky, 1990). Ketiga, isu debat terkait perbudakan dianggap ofensif terhadap masyarakat (sebagian besar masih menerapkan-nya). Berbeda dengan era saat ini, semua orang sepakat untuk menghapus perbudakan (dan pada posisi ini, besar kemungkinan berada di pihak Lincoln). 
Sementara di era debat modern AS, rutinitas bisa dilihat dari debat John F. Kennedy dan Richard Nixon pada 1960, yang disiarkan pertama kalinya oleh stasiun televisi. Dan mulai 1976, debat menjadi ritual dalam pemilihan presiden AS hingga saat ini, yang diselenggarakan Komisi Debat Presiden AS.

Dimensi Debat
Ada tiga hal yang menjadi dimensi debat. Pertama, bagi kandidat. Fungsinya, debat menjadi panggung utama untuk merebut swing voter/undecided, untuk meneguhkan pilihan atau pemilih yang sudah mengambil keputusan, dan untuk mengubah pemilih yang memiliki pikiran terbuka dan peluang berubah (Hinck, 1993). Pada dimensi ini, debat betul-betul digunakan untuk ‘meng-eksploitasi’ tujuan kongkrit (Kraus, 1988).
Kedua, bagi pemilih. Fungsinya untuk membantu pemilih menentukan pilihan kandidat yang bisa dan dapat melayani kepentingan dan nilai dari si pemilih. Dimensi ini dibedakan dari karakteristik pemilih. Misal, untuk partisan, menjadi kunci untuk menopang/memperkuat artikulasi strategi kandidat dalam mendekati swing voter. Sementara untuk pemilih yang melek politik, menjadi perangsang percakapan politik misal di era sosial media saat ini, bisa percakapan semacam twitter. Dan bagi pemilih yang kurang terlibat, debat menjadi ajang sorak sorai lomba, dimana satu kandidat didukung, dan berharap kesalahan (gaffe) dilakukan kandidat lawannya.
Ketiga, bagi sistem politik atau demokrasi. Fungsinya menjadi simbolik dimana forum real-time tanpa perantara ketika kandidat membahas isu kebijakan. Berbeda dengan iklan politik dengan konsultan, atau berita yang di-edit terlebih dahulu oleh tim redaksi. Melalui debat, pendidikan dan pengetahuan masyarakat sipil diharapkan bertambah.

Panggung Debat
Debat selevel presiden, tentu dituntut standar tinggi. Lantas bagaimana dengan debat Jokowi versus Prabowo? Sebagai performer panggung, keduanya di-evaluasi tidak hanya on panggung, tetapi juga yang bersifat off panggung. Seberapa positif mereka di mata voter relatif bergantung pada besar kecil disparitas on-off tadi.
Sejumlah poin penting bisa dilihat, pertama, tampilan visual. Para ahli mengemukakan tampilan visual dapat mempengaruhi terhadap persepsi kandidat. Di era dimana debat disiarkan televisi, penampilan fisik benar-benar diperhitungkan, yakni medium yang paling memiliki konsekuensi bagi kandidat. Kedua, narasi dan argumentasi. Yakni bagian penting dalam debat dimana kandidat dengan argumentasi koheren, menyodorkan bukti, mampu menyanggah klaim lawan, serta menghubungkan ide-ide dan simbol, dalam sebuah narasi menarik bisa memenangkan debat.
Debat Kandidat Presiden Amerika Serikat (Sumber: Youtube)

Ketiga, kredibilitas. Hal ini betul-betul diperhitungkan di era media, dimana kredibilitas dan kemampuan menghasilkan image kredibel dalam televisi.  Keempat, komunikasi non-verbal. Bagi sebagian pemilih menjadi petunjuk sederhana di tengah kesulitan mencerna statement kebijakan atau bahasa politik yang rumit. Apalagi ketika stasiun televisi menyiarkan layar terpisah dimana penonton dapat memperhatikan emosi dan gerak-gerik kandidat. Merujuk empat poin ini, bagaimana menurut anda evaluasi debat kemarin??!
Para ahli mengibaratkan debat sebagai format dari interview pekerjaan yang secara ritualnya berorientasi image atau pencitraan (jual diri). Di sisi politis lain yang menjadi PR, bagaimana seseorang ditempatkan sebagai presiden baik penampilan dan perilakunya, pemahaman mendalamnya akan isu, dan terutama sekali, kapabilitas memimpin negeri.
Pasca reformasi, praktis debat presiden baru digelar kurang lebih 4 kali, pada tahun 2004, 2009, 2014 dan pemilu presiden tahun ini. Masih ada 3 kali lagi debat tersisa untuk tahun ini, mari berbenah. Memang tidak linier dibanding-bandingkan ala debat AS sana, tapi kita punya asa untuk menyodorkan suasana debat yang berkualitas. Misal, berupaya mewujudkan debat setajam kandidat presiden Gerald R. Ford dan Jimmy Carter pada tahun 1976. Debat yang betul-betul menguji kapabilitas kandidat. Kala itu, selama satu setengah jam, isu strategis Ford dan Carter dikuliti habis oleh panelis, yakni 1 kolumnis dan 2 penulis editorial Washington Post dan Los Angeles Times.
Di sisi lain, percakapan publik perlu dipelihara dari yang pro dan kontra, sekalipun yang tendensi tipis bibir alias nyinyir, karena toh memang tidak terelakkan. Namun untuk ngadu-ngadu ke bawaslu, semua pihak perlu membatasi diri. Saya rasa, konsultan masing-masing kandidat paham betul kalau itu tidak perlu. (LEG)

*artikel ini telah dimuat situs berita online inews.id, silakan klik : https://www.inews.id/article/article/debat-capres-berharap-apa/482137

**Acuan:

Buku:
Richard M. Perloff, 2014,The Dynamics of Political Communication, Media and Politics in a
Digital Age, Routledge.

Berita online:
http://www.ushistory.org/us/32b.asp
saluran youtube : Angry Town Halls of 1858
saluran youtube : 1976 Jimmy Carter and Gerald Ford Presidential Debate