Jika diamati, reaksi yang paling mengejutkan dari debat kedua
adalah pelaporan capres ke Badan Pengawas Pemilu.
Kandidat petahana Joko Widodo diadukan atas dugaan penyebaran informasi bohong
dan fitnah soal lahan Prabowo Subianto. Sebaliknya,
Barisan Advokat Indonesia (terafiliasi sebagai pendukung Jokowi-Amin)
mengadukan Djoko Santoso, ketua nasional Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, atas
pernyataannya yang menuding capres petahana berlaku.
Sementara reaksi lainnya, relatif wajar. Suasana iklim
demokrasi, pro dan kontra respon masyarakat atas debat. Percakapan publik yang
bergulir pasca debat, antara lain headline
media massa yang mengulas debat kandidat, tayangan dialog televisi, percakapan
grup aplikasi whatsapp, media sosial
warganet, polling, atau yang down to
earth, obrolan di warung kopi.
Di twitter misalnya, twit akun Greenpeace menjadi ramai
terkait kebakaran hutan. Atau akun-akun yang berbalas menyoal kepemilikan lahan
HGU kandidat presiden (di pidato terbaru-nya saat Acara Konvensi Rakyat, capres Joko Widodo juga 'membalas' tantangan pengembalian). Ditengah
polarisasi pendukung kedua kandidat, komentar soal penampilan kedua kandidat
cenderung agresif.
![]() |
| Debat Kedua Capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto, (Sumber: Okezone, 17/2) |
Sedianya debat adalah senjata untuk mem-persuasi dalam
pemilihan. Amerika Serikat contohnya, pemilihan kandidat presiden hadir dengan
kultur debat yang kuat.
Merunut sejarah, ada debat bersejarah pada tahun 1858, yakni
Abraham Lincoln dan Stephen Douglas yang head
to head dalam debat kandidat senator Illinois. Saking terkenalnya, debat
itu dianggap a masterful exemplars of
political rhetoric dan menjadi referensi diskusi ahli mengenai debat
politik di Amerika sana (Perloff, 2014).
Kala itu, isu debat mengenai perbudakan. Lincoln dianggap
berhaluan absolut kanan, menilai perbudakan adalah hal yang salah secara moral.
Sang lawan, Douglas yang mengedepankan kedaulatan populer, mengambil posisi
relatif, yakni mengembalikan persoalan moral perbudakan pada masyarakat, apakah
ingin dilanjutkan atau menghapusnya. Keduanya saling beradu retorika, tak
sedikit menyerang argumen dan menguatkan keyakinannya di hadapan massa.
Ilustrasi debat yang cukup menarik bisa kita lihat dari Youtube, Angry Town Halls of 1858 (atau bisa lihat http://www.ushistory.org/us/32b.asp).
Sejumlah analisis dikemukakan mengapa Douglas, senator
petahana, unggul atas Lincoln dalam pemilihan. Pertama, Douglas baik argumen dalam debat dan kampanyenya, berhasil
meyakinkan di hadapan warga Illinois yang belum memutuskan (undecided/swing voters) bahwa Lincoln
merupakan seseorang yang radikal abolisionis (gerakan anti-perbudakan Eropa,
yang bentrok dengan kebiasaan masyarakat kala itu).
Kedua, audiens
yang hadir tidak fokus pada kedua kandidat yang mahir menyampaikan argumen-nya.
Audiens bahkan hadir dengan tujuan piknik, makanan, dan sebagian lainnya
tenggelam dalam euforia momentum drama acara debat (Zarefsky, 1990). Ketiga, isu debat terkait perbudakan
dianggap ofensif terhadap masyarakat (sebagian besar masih menerapkan-nya).
Berbeda dengan era saat ini, semua orang sepakat untuk menghapus perbudakan
(dan pada posisi ini, besar kemungkinan berada di pihak Lincoln).
Sementara di era debat modern AS, rutinitas bisa dilihat dari
debat John F. Kennedy dan Richard Nixon pada 1960, yang disiarkan pertama
kalinya oleh stasiun televisi. Dan mulai 1976, debat menjadi ritual dalam
pemilihan presiden AS hingga saat ini, yang
diselenggarakan Komisi Debat Presiden AS.
Dimensi Debat
Ada tiga hal yang menjadi dimensi debat. Pertama, bagi kandidat. Fungsinya, debat menjadi panggung utama
untuk merebut swing voter/undecided,
untuk meneguhkan pilihan atau pemilih yang sudah mengambil keputusan, dan untuk
mengubah pemilih yang memiliki pikiran terbuka dan peluang berubah (Hinck,
1993). Pada dimensi ini, debat betul-betul digunakan untuk ‘meng-eksploitasi’
tujuan kongkrit (Kraus, 1988).
Kedua, bagi
pemilih. Fungsinya untuk membantu pemilih menentukan pilihan kandidat yang bisa
dan dapat melayani kepentingan dan nilai dari si pemilih. Dimensi ini dibedakan
dari karakteristik pemilih. Misal, untuk partisan, menjadi kunci untuk
menopang/memperkuat artikulasi strategi kandidat dalam mendekati swing voter. Sementara untuk pemilih
yang melek politik, menjadi perangsang percakapan politik misal di era sosial
media saat ini, bisa percakapan semacam twitter.
Dan bagi pemilih yang kurang terlibat, debat menjadi ajang sorak sorai lomba, dimana satu kandidat didukung, dan
berharap kesalahan (gaffe) dilakukan kandidat lawannya.
Ketiga, bagi
sistem politik atau demokrasi. Fungsinya menjadi simbolik dimana forum real-time tanpa perantara ketika
kandidat membahas isu kebijakan. Berbeda dengan iklan politik dengan konsultan,
atau berita yang di-edit terlebih dahulu oleh
tim redaksi. Melalui debat, pendidikan dan pengetahuan masyarakat sipil
diharapkan bertambah.
Panggung Debat
Debat selevel presiden, tentu dituntut standar tinggi. Lantas
bagaimana dengan debat Jokowi versus Prabowo? Sebagai performer panggung, keduanya di-evaluasi tidak hanya on
panggung, tetapi juga yang bersifat off
panggung. Seberapa positif mereka di mata voter
relatif bergantung pada besar kecil disparitas on-off tadi.
Sejumlah poin penting bisa
dilihat, pertama, tampilan visual. Para ahli
mengemukakan tampilan visual dapat mempengaruhi terhadap persepsi kandidat. Di
era dimana debat disiarkan televisi, penampilan fisik benar-benar
diperhitungkan, yakni medium yang paling memiliki konsekuensi bagi kandidat. Kedua, narasi dan argumentasi. Yakni
bagian penting dalam debat dimana kandidat dengan argumentasi koheren,
menyodorkan bukti, mampu menyanggah klaim lawan, serta menghubungkan ide-ide
dan simbol, dalam sebuah narasi menarik bisa memenangkan debat.
![]() |
| Debat Kandidat Presiden Amerika Serikat (Sumber: Youtube) |
Ketiga,
kredibilitas. Hal ini betul-betul diperhitungkan di era media, dimana
kredibilitas dan kemampuan menghasilkan image kredibel dalam televisi. Keempat,
komunikasi non-verbal. Bagi sebagian
pemilih menjadi petunjuk sederhana di tengah kesulitan mencerna statement kebijakan atau bahasa politik
yang rumit. Apalagi ketika stasiun televisi menyiarkan layar terpisah dimana
penonton dapat memperhatikan emosi dan gerak-gerik kandidat. Merujuk empat poin ini, bagaimana menurut anda evaluasi
debat kemarin??!
Para ahli
mengibaratkan debat sebagai format dari interview pekerjaan yang secara ritualnya berorientasi image
atau pencitraan (jual diri). Di sisi politis
lain yang menjadi PR, bagaimana seseorang ditempatkan sebagai presiden baik
penampilan dan perilakunya, pemahaman mendalamnya akan isu, dan terutama
sekali, kapabilitas memimpin negeri.
Pasca reformasi, praktis debat presiden baru digelar kurang
lebih 4 kali, pada tahun 2004, 2009, 2014 dan pemilu presiden tahun ini. Masih ada 3 kali lagi debat tersisa untuk tahun ini, mari
berbenah. Memang tidak linier dibanding-bandingkan ala debat AS
sana, tapi kita punya asa untuk menyodorkan suasana debat yang berkualitas. Misal, berupaya mewujudkan debat setajam kandidat presiden
Gerald R. Ford dan Jimmy Carter pada tahun
1976. Debat yang betul-betul menguji
kapabilitas kandidat. Kala itu, selama satu setengah jam, isu
strategis Ford dan Carter
dikuliti habis oleh panelis,
yakni 1 kolumnis dan 2 penulis editorial
Washington Post dan Los Angeles Times.
Di sisi lain, percakapan publik
perlu dipelihara dari yang pro dan kontra, sekalipun yang tendensi tipis bibir
alias nyinyir, karena toh memang tidak terelakkan. Namun untuk ngadu-ngadu ke
bawaslu, semua pihak perlu membatasi diri. Saya rasa, konsultan masing-masing
kandidat paham betul kalau itu tidak perlu. (LEG)
**Acuan:
Buku:
Richard M. Perloff, 2014,The Dynamics of Political Communication, Media and Politics in a
Digital Age, Routledge.
Berita online:
http://www.ushistory.org/us/32b.asp
saluran youtube :
Angry Town
Halls of 1858
saluran youtube : 1976 Jimmy Carter and Gerald Ford Presidential Debate

